Kamis, 01 Desember 2022

GERAKAN PEMBAHARUAN ISLAM INDONESIA DARI MASA KE MASA

                Struktur masyarakat kolonial diwarnai pola hubungan sosial yang sangat diskriminatif dan opresif. Pelapisan sosial yang sangat ketat menempatkan bangsa Eropa sebagai kelompok teratas dan memiliki hak istimewa seperti menikmati berbagai fasilitas sosial. Lapisan ketiga atau paling bawah adalah masyarakat kebanyakan yang hanya memiliki kewajiban untuk melayani masyarakat dari lapisan atas tanpa mempunyai hak. Di daerah kerajaan seperti Yogyakarta dan Surakarta maupun daerah lain seperti Cirebon, Mangkunegaran, dan Pakualaman, pemerintah kolonial tidak menguasainya secara langsung, tetapi pengaruhnya cukup kuat seperti yang tampak dalam pemilihan patih dan urusan keuangan internal.

          Sikap itu merupakan keberhasilan dari kebijakan kolonial yang cukup lama yang membagi lapisan sosial kolonial menjadi tiga, yaitu lapisan atas adalah orang Belanda, lapisan kedua adalah orang Cina dan Timur Asing lain, dan lapis ketiga adalah bangsa Indonesia yang memilih kewarganegaraan Belanda. Belanda yang telah membuat penderitaan di kalangan pribumi.

         Sementara itu, di daerah yang langsung dikuasai kumpeni terjadi hubungan langsung antara rakyat pribumi dengan orang Barat. Karesidenan Surakarta hampir tidak ada desa yang terbebas dari pengusahaan tanaman perkebunan oleh perusahaan swasta Belanda. Tahun 1250 merupakan tonggak pendidikan Islam, Syekh Burhanuddin adalah ulama terkenal yang dipercaya sebagai pendiri surau atau madrasah di Ulakan, tempat beliau menetap. Surau ini dipercaya sebagai surau yang pertama kali didirikan di Minangkabau. Meskipun data tentang sistem pendidikan yang dilakukan oleh Syekh Burhanuddin tidak diketahui, dikisahkan bahwa sebelum datang ke Minangkabau beliau belajar agama di Aceh selama 10 tahun. Di Minangkabau terdapat banyak ulama terkenal yang aktif mengajarkan agama bukan saja di kampung halamannya, tetapi juga ke daerah lain.

            Paderi yaitu Muhammad Syahab yang membangun benteng di Bonjol sehingga ia dikenal dengan Imam Bonjol. Dalam melakukan pembaharuan banyak di antara mereka menggunakan cara kekerasan sehingga terjadi konflik antara kaun Paderi dan kaum adat, yang diakhiri dengan perang terbuka. Karena dalam pertempuran itu kaum adat selalu mengalami kekalahan, kemudian mereka minta bantuan kepada Kumpeni. Syaikh Ahmad Khatib, lahir di Islam yang berpahamkan madzab Syafe’i. Beliau adalah ulama yang cerdas, kritis, sekaligus toleran. Secara terang-terangan, ia tidak menyetujui aliran Naqsabandiyah serta terhadap adat pembagian waris model Minangkabau yang memberikan waris kepada keponakan. Rasul, dan Hasyim Asy’ari merupakan pendiri Nahdatul Ulama. Karim Amrullah yang dikenal dengan Haji Rasul.

         Islam sebagai dasar perjuangannya dan mencita-citakan kemerdekaan. Peran Haji Samanhudi dalam mengobarkan semangat keagamaan ditunjukkan oleh anjuran yang ia sampaikan pada beberapa kesempatan. Pada tahun 1912 dalam satu kongres SI di Surabaya ia mengatakan bahwa setiap orang yang lahir ke dunia ini membawa fitrah masing-masing. Oleh karena itu, SDI sebagai organisasi Islam harus memperjuangkan upaya untuk mengembalikan fitrah setiap hamba Allah, yaitu sebagai makhluk yang bebas.

            Al-Jamiat Al Khair yang lebih dikenal dengan jamiat kahir yang didirikan pada 17 Juli 1905 sebagai organisasi islam tanpa diskriminasi asal-usul meskipun sebagian besar penggeraknya adalah Arab peranakan. Soorkati yang paling menonjol dalam hal menanamkan ide pembaharuan pendidikan di kalangan masyarakat Islam di Indonesia. Kehadiran tokoh pendidikan dari luar negeri yang semakin banyak pada umumnya adalah pengikut Muhammad Abduh. Arab kelompok sayid yang selama ini menikmati penghormatan berlebihan dan merasa dirinya berkedudukan tinggi dari golongan lain dalam masyarakat Islam di Jawa. Soorkati pada 1914 dengan tujuan untuk memajukan pendidikan agama Islam secara murni di kalangan bangsa Arab.

          Pada Kongres tahun 1923, SI mengubah nama menjadi Partai Serikat Islam. Namun dengan adanya keyakinan bahwa agama Islam adalah agama yang mengatur segenap kehidupan manusia di dunia, dengan sendirinya segala sesuatu yang berhubungan dengan dunia juga menjadi bidang garapannya, tak terkecuali soal politik kenegaraan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PEMIKIRAN ISLAM

     POTRET PEMIKIRAN POLITIK ISLAM               MODERN (Membedah Tiga Paradigma             Pemikiran Politik Islam: Tradisionalis,       ...