Rabu, 14 Desember 2022

PEMBAHARUAN MODEL PESANTREN: RESPON TERHADAP MODERNITAS

           Perubahan tampaknya tertanam dalam sistem pendidikan dan pesantren. Kemampuannya untuk berubah, dinamis, dan mentransformasikan dirinya sesuai dengan tuntutan modernitas, tanpa mengabaikan keunikan dan keunikannya merupakan salah satu keunggulan pesantren. Hal inilah yang membuat pesantren mampu bertahan dibandingkan dengan lembaga pendidikan Islam lainnya di nusantara, seperti dayah, pekarangan, meunasah, dan surau. Respon pesantren terhadap modernisasi pendidikan Islam dan perubahan sosial ekonomi masyarakat Indonesia sejak awal abad ini termasuk; pertama, pemutakhiran isi atau substansi pendidikan pesantren dengan memasukkan mata pelajaran umum dan kejuruan; Kedua, Pembaharuan metodologi, seperti sistem klasikal, leveling; ketiga, pembaharuan kelembagaan, seperti kepemimpinan pesantren, diversifikasi lembaga pendidikan; dan keempat, pembaharuan fungsi, dari fungsi pendidikan menjadi juga fungsi sosial ekonomi yang lebih luas. Tidak salah jika kemudian pesantren diidentikkan sebagai pusat Broker Budaya dan pusat rekayasa sosial seperti yang ditunjukkan oleh Hiroko Horikoshi. Keberhasilan pesantren dalam berdialog dengan modernitas tidak serta merta membuat pesantren kehilangan keunggulan dan keunikannya dalam menjalankan tugas moralnya. Karena pesantren telah mendapatkan kepercayaan masyarakat sebagai lembaga kajian sumber-sumber nilai-nilai Islam, maka agama yang ditempati pesantren terutama berfungsi dalam pembinaan akhlak. Dengan demikian, pesantren ideal adalah pesantren yang mampu berdialog dengan modernitas, tanpa menghilangkan tugas utamanya sebagai pengemban amanat moral.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PEMIKIRAN ISLAM

     POTRET PEMIKIRAN POLITIK ISLAM               MODERN (Membedah Tiga Paradigma             Pemikiran Politik Islam: Tradisionalis,       ...