Minggu, 03 April 2022

KULTUR SEKOLAH

        Kultur atau budaya merupakan aturan yang dibuat oleh masyarakat yang akan menjadi milik bersama di dalam masyarakat itu sendiri dan dapat diterima oleh masyarakat setempat sehingga mudah untuk diterapkan. Kultur ini dibuat oleh masyarakat, diakui sebagai aturan yang mengikat oleh masyarakat dan diterapkan oleh masyarakat itu sendiri. Pengakuan tersebut dijadikan sebagai patokan dalam menjalankan kehidupan sehari-hari tetapi tetap berdasarkan nilai dan norma yang berlaku dimasyarakat itu sendiri dalam mewujudkan tujuan yang akan dicapai bersama. Tidak hanya itu, kultur juga bisa dijadikan sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari bagi masyarakat, seperti pola pikir, perilaku dan sikap, nilai yang tercermin baik dalam wujud fisik maupun nonfisik. Wujud fisik contohnya peninggalan benda-benda bersejarah, sedang nonfisik yaitu seperti kegiatan sosial dan seni. Secara alami kultur ini akan diwariskan dari generasi ke generasi berikutnya sehingga akan tetap ada dan tidak hilang di telan zaman. 

            Sekolah merupakan salah satu tempat untuk dikembangkan nya kultur dari generasi ke generasi berikutnya. Kultur sekolah adalah aturan dasar atau kreasi seni yang berisi nilai, norma, keyakinan dan kebiasaan yang dibuat bersama oleh seluruh masyarakat sekolah yang dapat dipelajari dan juga akan diterapkan serta telah teruji dapat memecahkan masalah-masalah atau kesulitan yang sedang dihadapi sekolah dalam mencetak lulusan yang cerdas, terampil, mandiri, bertanggung jawab sesuai dengan visi misi dan harapan sekolah tersebut. Biasanya kultur sekolah dapat dilihat dari bagaimana bentuk kepala sekolah nya, guru-guru nya, siswa nya, cara belajarnya, dan tenaga pekerja lainnya yang ada disekolah yang pastinya itu semua berhubungan satu sama lain sehingga membentuk tradisi disekolah itu sendiri.

A. Macam-Macam kultur Sekolah

            Adanya kultur sekolah dapat mempengaruhi sikap dan perilaku warga sekolah. Kultur sekolah ini dibedakan menjadi tiga macam, yaitu : kultur sekolah yang positif, kultur sekolah yang negatif, dan kultur sekolah yang netral. 

1. Kultur sekolah yang positif diisi dengan kegiatan-kegiatan yang bersifat mendukung pada peningkatan kualitas pendidikan disekolah tersebut, yang terdiri dari :

a) Adanya tekad yang kuat untuk meraih prestasi dan memberikan penghargaan kepada yang meraih prestasi. 

b) Selalu bersemangat, menegakkan kejujur, adil, mengakui kelemahan dan kekurangan dihadapan lawan atau mengakui kekuatan dan keunggulan lawan. 

c) Saling menghargai satu sama lain.

2. Kultur sekolah yang negatif diisi dengan kegiatan-kegiatan yang bersifat tidak mendukung pada peningkatan kualitas pendidikan disekolah tersebut, yang terdiri dari :

a) Banyak nya jam kosong yang tidak digunakan dengan baik.

b) Sering nya absen dan tidak mengerjakan tugas.

c) Terlalu dan sering mengizinkan terhadap pelanggaran nilai-nilai norma yang berlaku.

d) Adanya perbedaan pendapat yang mengakibatkan perpecahan dan terbentuk nya kelompok-kelompok yang akan saling menjatuhkan.

e) Hanya memperdulikan nilai pelajaran tetapi tidak pada kemampuan yang dimiliki.

3. Kultur sekolah yang netral diisi dengan kegiatan-kegiatan yang bersifat kurang berpengaruh baik itu negatif maupun positif pada peningkatan kualitas pendidikan disekolah tersebut, yang terdiri dari :

a) Membuat seragam guru.

b) Kegiatan arisan yang diadakan oleh guru.

c) Fasilitas sekolah dan sebagainya.

            Terciptanya dan terbentuknya kultur sekolah tidak lain hanya lah untuk memperbaiki kinerja sekolah tersebut, seperti kepala sekolah, guru, siswa, karyawan sekolah, dan orang tua siswa. Hal tersebut dapat terjadi apabila budaya sekolah nya sehat, solid, kuat, positif, dan profesional. Maknanya budaya sekolah ini harus menjadi komitmen yang dipegang oleh seluruh warga sekolah dan akan menjadi kepribadian sekolah tersebut demi mencapai tujuan bersama. Dengan budaya sekolah yang sehat, berkolaborasi, semangat yang tinggi, suasananya kekeluargaan, maka kultur belajar mengajar yang bermutu dapat tercipta disekolah tersebut. Perbaikan sistem disekolah intinya yaitu membangun sekolah dengan kekuatan utama sekolah tersebut. Dalam perbaikan mutu sekolah sebagai modal dasarnya yaitu perlu nya memahami budaya sekolah. Dengan memahami budaya sekolah maka permasalahan yang ada dapat dengan mudah diketahui. 

            Secara karakteristiknya kultur sekolah terdiri dari 2, yaitu kultur positif dan kultur negatif. Kultur positif adalah budaya yang membantu mutu sekolah dan mutu kehidupan bagi warga sekolah. Mutu kehidupan warga sekolah yang diharapkan adalah warga yang sehat, dinamis, aktif, dan profesional. Kultur positif ini akan memberikan kesempatan untuk sekolah beserta warganya berfungsi secara optimal, bekerja secara efisien, energik, memiliki semangat tinggi, dan akan mampu untuk terus berkembang. Kultur positif ini harus terus menerus dikembangkan dari generasi ke generasi berikutnya, dan dari kelompok satu ke kelompok lainnya. Kultur positif dan kuat memiliki kekuatan dan akan menjadi modal dalam melakukan perubahan dan perbaikan. 

              Sedangkan kultur negatif adalah budaya yang organisasinya bersifat anarkhis, negatif, beracun, dan merugikan. Sekolah yang merasa puas dan cukup dengan yang apa yang telah dicapai merupakan bagian dari kultur negatif, karena mereka pasti tidak ingin melakukan perubahan dan takut mengambil risiko terhadap perubahan tersebut. Akibatnya, kualitaspun akan menurun. Kultur sekolah bersifat dinamis, maksudnya yaitu ketika perubahan pola perilaku, maka perubahan pola perilaku dapat mengubah sistem nilai dan keyakinan pelaku dan bahkan mengubah sistem asumsi yang ada, walaupun ini sangat sulit diubah dan diterapkan. Namun, gerak kultur sekolah dapat saja menghadirkan masalah dan jika ini ditangani dengan bijak dan sehat maka dapat membawa perubahan positif. Sekolah perlu menyadari secara serius mengenai keberadaan berbagai macam kultur yang berbeda-beda, yang ada seperti kultur sehat dan tidak sehat, kultur kuat dan lemah, kultur positif dan negatif dan konsekuensinya terhadap perbaikan sekolah.

B. Peran dan Fungsi Kultur Sekolah

            Disebuah lembaga atau sekolah kultur itu sangatlah penting hingga diibaratkan seperti nyawa manusia, tanpa kultur sekolah hidup seperti raga yang tak bernyawa. Kultur sekolah diyakini mempunyai kiprah pada membentuk kinerja yang terbaik dalam masing-masing individu, grup kerja atau unit kerja sekolah. Oleh lantaran itu, sekolah menjadi satu institusi, perlu menciptakan interaksi sinergitas antar masyarakat sekolah yg positif agar memperbaiki kualitas sekolah yg bersangkutan. Beberapa kajian menerangkan keliru satu faktor penghambat pencapaian prestasi sekolah artinya kultur atau budaya sekolah. Oleh lantaran itu, buat memperbaiki kualitas sekolah perlu dilakukan melalui sentuhan  budaya sekolah terlebih dahulu apabila mutu pendidikan ingin diperbaiki. Keadaan misalnya, ini sinkron menggunakan output pengamatan Gunningham & Gresso ( Depdiknas, 2003: 5 ) yang mengungkapkan bahwa pada menunjang pemugaran mutu pendidikan sekolah melalui pendekatan struktural tidak bisa mengganti keaadaan secara signifikan yg hanya bersifat topdown dan bersifat sementara tidak sama menggunakan melalui pendekatan kultural yang bersifat buttom-up sebagai akibatnya rakyat  sekolah tidak merasa terpaksa melakukan perbaikan menggunakan keaadan yang memang sudah sebagai sebuah budaya yangg dianut sekolah itu sendiri, sebagai akibatnya akan memudahkan terwujudnya peningkatan kualitas pendidikan yang diharapkan.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PEMIKIRAN ISLAM

     POTRET PEMIKIRAN POLITIK ISLAM               MODERN (Membedah Tiga Paradigma             Pemikiran Politik Islam: Tradisionalis,       ...