Kelas merupakan tempat atau wadah yang paling dominan atau sering digunakan untuk pembelajaran bagi para peserta didik. Kelas yang efektif sangat dibutuhkan untu k mencapai tujuan pembelajaran. Indikator kelas yang efektif ditandai dengan adanya peran aktif siswa dalam belajar dikelas. Di mana kelas yang efektif yaitu guru yang tidak lagi mengajar siswa terlalu sering melainkan guru dapat membelajarkan siswa. Terciptanya kelas yang efektif terdapat situasi atau suasana pembelajaran yang kondusif atau tenang dan menyenangkan bagi siswa, sehingga pembelajaran dapat berlangsung dengan lancar. Untuk menciptakan kelas yang efektif sangat diperlukan keterampilan guru yang dapat dan mampu dalam mengelola kelas pembelajaran agar selalu dapat terpelihara dengan baik agar ketika belajar peserta didik selalu merasa nyaman dan betah. Manajemen kelas yang baik adalah berkenaan dengan penciptaan lingkungan belajar yang kondusif, pemanfaatan sarana dengan memperhatikan kebutuhan peserta didik baik secara individu maupun secara kelompok. Karena hakikat dari tujuan utama pada kegiatan pembelajaran adalah dapat memberikan bimbingan serta layanan kepada peserta didik agar mereka ikut serta dalam pembelajaran dengan aktif.
Oleh karena itu perlu kita ketahui, bahwa peserta didik secara individu memiliki latar belakang yang berbeda-beda, baik latar belakang keluarga ataupun kemampuan intelektualnya. Hal inilah yang menjadi karakteristik peserta didik yang paling utama menjadi bagian dari perhatian dan perhitungan guru dalam membawa peserta didik nya ke arah tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Manajemen kelas yang baik adalah berkenaan dengan penciptaan lingkungan belajar yang kondusif, pemanfaatan sarana dengan memperhatikan kebutuhan peserta didik baik secara individu maupun secara kelompok. Karena hakikat dari tujuan utama pada kegiatan pembelajaran adalah dapat memberikan bimbingan serta layanan kepada peserta didik agar mereka ikut serta dalam pembelajaran dengan aktif. Oleh karena itu perlu kita ketahui, bahwa peserta didik secara individu memiliki latar belakang yang berbeda-beda, baik latar belakang keluarga ataupun kemampuan intelektualnya. Hal inilah yang menjadi karakteristik peserta didik yang paling utama menjadi bagian dari perhatian dan perhitungan guru dalam membawa peserta didik nya ke arah tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.
1. Guru sebagai manajer/pemimpin pembelajaran
Sebagai pemimpin pembelajaran di kelas, guru mempunyai peranan dan pengaruh yang sangat besar dalam peningkatan hasil belajar siswa. Berkembangnya semangat belajar siswa, atau minat terhadap materi pembelajaran, dan suasana belajar yang menyenangkan banyak ditentukan oleh kualitas kepemimpinan guru. Secara sederhana fungsi kepemimpinan guru dalam manajemen kelas dapat dikategorikan dengan langkahlangkah sebagai fungsi merencanakan pembelajaran, fungsi melaksanakan pembelajaran, dan fungsi mengawasi atau mengendalikan pelaksanaan pembelajaran. Dalam pelaksanaan pembelajaran fungsi - fungsi manajemen ini merupakan kesatuan yang tidak dapat terpisahkan pada keterampilan guru sebagai manajer atau pemimpin dalam kelas. Bahkan fungsifungsi ini merupakan fungsi sentral yang dapat menjiwai perwujudan keberhasilan belajar siswa.
2. Tipe-tipe Kepemimpinan Guru
a. Tipe Kepemimpinan Otoriter
Tipe kepemimpinan ini adalah yang paling banyak dikenal, karena tergolong paling tua. Kepemimpinan ini menempatkan kekuasaan di tangan seorang guru. Sejumlah siswa yang dipimpinnya dianggap sebagai pengikut yang harus taat pada dirinya apa yang menjadi kehendak harus dituruti. Sehingga guru menganggap dirinya bertindak sebagai penguasa dan siswa sebagai obyek dalam belajar.
b. Tipe Kepemimpinan Demokratis
Tipe kepemimpinan ini kebalikan dari tipe kepemimpinan otoriter, yaitu menempatkan atau memandang siswa sebagai faktor utama dan terpenting dalam pembelajaran. Tipe kepemimpinan ini menganggap dirinya bagian dari siswa yang bersama-sama berusaha untuk melayani kebutuhan serta bertanggung jawab dalam pencapaian tujuan. Agar para siswa merasa tanggung jawab, maka secara menyeluruh diajak ikut aktif melakukan belajar. Setiap siswa dianggap sebagai potensi yang berharga dan dianggap peran atau faktor yang paling utama. Karena proses pembelajaran dapat terjadi bila adanya aktivitas para siswa.
c. Tipe Kepemimpinan Pseudo-Demokratis
Pseudo artinya palsu atau pura-pura. Pemimpin semacam ini berusaha memberikan kesan dalam penampilannya seolah-olah ia demokratis, tetapi memiliki tujuan otokratis dengan cara mendesakkan keinginan sendiri secara halus. Ia selalu berusaha untuk mencari perhatian orang lain agar disukai dengan bentuk sikap dan perilaku serta ucapan ditonjolkan, atau dalam suatu pertemuan/rapat ia banyak meminta pendapat/saran orang lain, untuk memberikan kesan bahwa ia lebih memperhatikan orang lain.
d. Tipe Kepemimpinan Laissez-Faire
Laissez-Faire bila diterjemahkan artinya biarkan saja berjalan, atau masa bodo. Kepemimpinan semacam ini biasanya disebabkan pemimpin memberikan arti keliru pada istilah demokrasi. Demokrasi seolah-olah harus diartikan sebagai kebebasan mengemukakan dan mempertahankan pendapat masing-masing dan bebas untuk menggunakan kebijakan sendiri-sendiri.
3. Langkah-langkah Kegiatan Manajemen Kelas
Langkah-langkah kegiatan manajemen kelas adalah penyusunan rangkaian kegiatan yang dilakukan guru sebagai manajer/pemimpin pembelajaran di kelas adalah:
a. Merencanakan Pembelajaran
Dalam perencanaan terdapat rangkaian kegiatan untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Dalam konteksperencanaan pembelajaran, adalah berkaitan dengan penyusunan langkahlangkah dalam pencapaian tujuan belajar siswa yang dilakukan guru dalam membimbing, membantu, dan mengarahkan siswa supaya mau mengikuti kegiatan belajar. Singkatnya dalam perencanaan pembelajaran berkaitan erat dengan rumusan tujuan yang akan dicapai siswa atau hasil belajar siswa. Hanya saja masalahnya bagaimana implikasinya dalam perencanaan pembelajaran yang harus dibuat oleh guru sebelum mengajar dalam bentuk persiapan mengajar atau dengan sebutan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Fungsi guru dalam merencanakan pemebelajaran berorientasi karakteristik siswa yang dapat dilakukan adalah untuk membangkitkan motivasi belajar siswa secara aktif.
b. Merumuskan Tujuan Pembelajaran
Dalam hal ini, guru dituntut untuk menguasai dan mengetahui tentang tujuan yang selama ini menjadi acuan dalam rumusan pencapain tujuan pembelajaran. Klasifikasi rumusan tujuan pembelajaran dapat dikelompokan ke dalam tiga ranah, yaitu: (1) Ranah kognitif, yang mencakup tujuan yang berhubungan dengan ingatan (recall), pengetahuan, kemampuan intelektual. (2) Ranah afektif, yang mencakup tujuan yang berhubungan dengan perubahan-perubahan sikap, nilai, perasaan, dan minat. (3) Ranah psikomotorik, yang mencakup tujuan yang berhubungan dengan kemampuan gerak dalam keterampilan.
Dari ketiga ranah tujuan tersebut, yaitu kemungkinan-kemungkinan hasil belajar siswa dalam bentuk tingkah laku yang diperoleh setelah pembelajaran. Rumusan tujuan pembelajaran dibuat dan diorientasikan berdasarkan analisis terhadap kebutuhan dan kemampuan siswa. Dalam kurikulum berbasis kompetensi, istilah tujuan pembelajaran merupakan kompetensi dasar, sedangkan tujuan pembelajaran yang lebih bersifat khusus merupakan indikator yang menjadi bentuk tingkah laku.
c. Memilih Materi Pokok Pembelajaran
Materi pokok yang dibuat berdasarkan pada pencapaian tujuan pembelajaran. Materi pokok pembelajaran merupakan alat bahkan sekaligus yang menjadi proses pengalaman bagi siswa selama mengikuti proses pembelajaran. Dengan kata lain, materi pokok pembelajaran adalah pokopokok materi yang harus dipelajari siswa sebagai sarana dalam pencapaian kompetensi dasar yang disusun berdasarkan indikator hasil belajar.
4. Menentukan Strategi Pembelajaran
Yaitu, merupakan upaya guru dalam cara penyampaian materi yang telah dibuat tadi untuk lebih mudah disampaikan kepada siswa dengan cara seefektif mungkin. Berbagai cara yang dilakukan guru dalam penyampaian materi ini adalah menggunakan metode yang disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan siswa yang menjadi subyek belajar. Roestiyah berpendapat bahwa “di dalam proses belajar-mengajar, guru harus memiliki strategi, agar siswa dapat belajar secara efektif dan efisien, mengena pada tujuan yang diharapkan. Salah satu langkah untuk memiliki strategi itu ialah harus menguasai teknik-teknik penyajian, atau biasanya disebut metode mengajar”.Dalam pernyataan tersebut, guru harus dapat membuat atau menciptakan strategi pembelajaran dengan menggunakan metode yang dianggap paling tepat, mudah diterima oleh siswa, sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.
5. Membuat Evaluasi/Penialaian
Evaluasi di sini merupakan alat untuk mengetahui atau mengukur sejauhmana kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan apakah tercapai sesuai dengan tujuan yang telah ditentukan ataukah tidak. Dalam proses pembelajaran kegiatan evaluasi sangat perlu dilakukan oleh guru. Moh. Surya berpendapat, “salah satu kegiatan yang harus dilakukan guru dalam melaksanakan tugas dan peranannya ialah kegiatan evaluasi”.
6. Melaksanakan Pembelajaran
Pelaksanaan pembelajaran merupakan realiasi kegiatan yang telah direncanakan atau dipersiapkan sebelumnya. Oleh karena itu dalam pelaksanaan pembelajaran faktor guru sangat dominan berpengaruh terhadap aktivitas belajar siswa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar