Selasa, 26 April 2022

KOMPETENSI GURU PROFESIONAL

       

Guru merupakan ujung tombak pembelajaran, untuk menjadi seorang guru harus lah menguasai dan memiliki empat kompetensi profesional guru sebagaimana yang dicantumkan dalam UU Guru dan Dosen. Kompetensi memiliki arti sebagai kemampuan atau kecakapan seseorang dalam bidang kerja atau dalam profesi tertentu. Kompetensi ini juga dapat diartikan sebagai kapasitas untuk melakukan sesuatu yang dihasilkan melalui proses belajar. Sedangkan Cowel menyatakan bahwa kompetensi ini adalah suatu keterampilan atau kemahiran maupun kemampuan seseorang yang bersifat aktif. Jika merujuk kepada UU No. 14/2005 tentang Guru dan Dosen, kompetensi ini diartikan sebagai seperangkat pengetahuan, keterampilan dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati dan dikuasai oleh guru dalam melaksanakan tugas profesinya. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, pada pasal 10 ayat (1) menyatakan bahwa “Kompetensi guru sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi”. Berikut ini penjelasannya mengenai kompetensi guru profesional:

Kompetensi Guru Profesional

Kompetensi Profesional Guru adalah kemampuan atau keterampilan yang wajib dan harus dimiliki oleh seorang guru supaya tugas-tugas keguruan bisa diselesaikan dengan baik. Keterampilan ini berkaitan dengan hal-hal yang cukup teknis, dan akan berkaitan langsung dengan kinerja guru tersebut.

a.       Kompetensi Pedagogik

Kompetensi Pedagogik adalah kemampuan pemahaman terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya. Bagian kompetensi dalam kompetensi Pedagogik yaitu :

1)    Memahami peserta didik juga lebih mendalam yang memahami tentang peserta didik untuk memamfaatkan suatu prinsip perkembangan kognitif, seperti prinsip kepribadian, dan mengidentifikasi bekal ajar awal peserta didik.

2)  Merancang pembelajaran, termasuk suatu landasan pendidikan untuk  pembelajaran yang meliputi landasan suatu pendidikan, menerapkan teori belajar dan pembelajaran, menentukan strategi pembelajaran terkait karakteristik peserta didik, kompetensi yang ingin dicapai, dan materi ajar, yang sudah dirancangan pembelajaran berdasarkan strategi yang dipilih.

3)   Melaksanakan suatu pembelajaran yang meliputi suatu latar pembelajaran dan melaksanakan pembelajaran yang kondusif.

4)   Merancang suatu evaluasi pembelajaran yang melaksanakan evaluasi proses dan hasil belajar secara berkesinambungan dengan berbagai metode, menganalisis hasil evaluasi proses dan hasil belajar untuk menentukan tingkat ketuntasan belajar, dan memanfaatkan hasil penilaian pembelajaran untuk perbaikan kualitas program pembelajaran secara umum.

5)      Mengembangkan peserta didik untuk mengaktualisasikan memfasilitasi peserta didik untuk pengembangan berbagai potensi akademik, dan memfasilitasi peserta didik untuk mengembangkan berbagai potensi non akademik.

    b.       Kompetensi Kepribadian

Kompetensi Kepribadian adalah kemampuan personal yang mencerminkan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik, dan berakhlak mulia. Sub kompetensi dalam kompetensi kepribadian meliputi :

1)      Kepribadian yang mantap dan stabil meliputi bertindak sesuai dengan norma sosial, bangga menjadi guru, dan memiliki konsistensi dalam bertindak sesuai dengan norma.

2)   Kepribadian yang dewasa yaitu menampilkan kemandirian dalam bertindak sebagai pendidik dan memiliki etos kerja sebagai guru.

3)   Kepribadian yang arif adalah menampilkan tindakan yang didasarkan pada kemanfaatan peserta didik, sekolah dan masyarakat dan menunjukkan keterbukaan dalam berpikir dan bertindak.

4)      Kepribadian yang berwibawa meliputi memiliki perilaku yang berpengaruh positif terhadap peserta didik dan memiliki perilaku yang disegani.

5)     Berakhlak mulia dan dapat menjadi teladan meliputi bertindak sesuai dengan norma religius (imtaq, jujur, ikhlas, suka menolong) dan memiliki perilaku yang diteladani peserta didik.

Tokoh Pendidikan Perempuan Nasional dari Ranah Minang, Zakiah Daradjat berpendapat bahwa kompetensi kepribadian guru adalah akhlak guru. Menurutnya, beberapa akhlak guru yang terkait dengan kompetensi kepribadian adalah:

a.       Mencintai dan mensyukuri pekerjaan/profesinya.

b.      Bersikap adil

c.       Berlaku sabar dan tenang

d.      Berwibawa

e.       Gembira dan menggembirakan

f.       Mampu bekerja sama

 

c.      Kompetensi Profesional

Kompetensi Profesional adalah penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam, yang mencakup penguasaan materi kurikulum mata pelajaran di sekolah dan substansi keilmuan yang menaungi materinya, serta penguasaan terhadap struktur dan metodologi keilmuannya. Penjelasannya adalah:

1.  Menguasai materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung pelajaran yang diampu.

2.  Mengusai standar kompentensi dan kompetensi dasar mata pelajaran/bidang pengembangan yang mampu.

3.  Mengembangkan materi pembelajaran yang mampu secara kreatif.

4.   Mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan melakukan tindakan reflektif.

5.      Memanfaatkan TIK untuk berkomunikasi dan mengembangakan diri.

 

d.       Kompetensi Sosial

Kompetensi Sosial adalah kemampuan guru untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, tenaga kependidikan, orang tua/wali peserta didik, dan masyarakat. sekitar. Bersikap inkulif, bertindak obyektif, serta tidak diskriminatif karena pertimbangan jenis kelamin, agama, ras, kondisi fisik, latar belakang keluarga, dan status sosial keluarga. Berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua dan masyarakat. Beradaptasi di tempat bertugas di seluruh wilayah RI yang memiliki keragaman sosial budaya. Berkomunikasi dengan lisan maupun tulisan.

Menjadi seorang guru yang baik memang tidaklah cukup dengan mengandalkan kemampuan dalam materi saja, namu guru yang baik yaitu guru yang dapat mengenali dan memahami karakteristik peserta didiknya dengan cara mengenali dan memahami karakteristik peserta didik, guru tersebut dapat tahu apa yang dibutuhkan oleh peserta didik dan mampu mengarahkan serta membimbing peserta didiknya, sehingga proses pembelajaran berjalan dengan baik dan mendapatkan hasil yang memuaskan. Dalam lingkup belajar mengajar yang dilakukan oleh guru di lingkungan sekolah seringkali dijumpai ketidaksesuaian dengan kondisi, situasi, dan kebutuhan siswa. Penggunaan model, strategi, pendekatan, metode, dan media yang selalu sama, bahkan guru ada yang tidak menggunakan media, sehingga pada semua mata pelajaran yang diajarkan oleh guru, membuat peserta didik kurang termotivasi dan kurang bersemangat mengikuti proses pembelajaran. Pembelajaran di setiap harinya lebih dominasi oleh keaktifan guru dalam hal ini siswa lebih ke pasif dalam pembelajaran perlu adanya instruksi langsung dari guru agar peserta didik mau beranjak dari tempat duduknya dan bergerak untuk aktif dalam mengikuti pembelajaran di sekolah.

 


Selasa, 19 April 2022

MANAJEMEN KELAS

 


        Kelas merupakan tempat atau wadah yang paling dominan atau sering digunakan untuk pembelajaran bagi para peserta didik. Kelas yang efektif sangat dibutuhkan untu k mencapai tujuan pembelajaran. Indikator kelas yang efektif ditandai dengan adanya peran aktif siswa dalam belajar dikelas. Di mana kelas yang efektif  yaitu guru yang tidak lagi mengajar siswa terlalu sering melainkan guru dapat membelajarkan siswa. Terciptanya kelas yang efektif terdapat situasi atau suasana pembelajaran yang kondusif atau tenang dan menyenangkan bagi siswa, sehingga pembelajaran dapat berlangsung dengan lancar. Untuk menciptakan kelas yang efektif sangat diperlukan keterampilan guru yang dapat dan mampu dalam mengelola kelas pembelajaran agar selalu dapat terpelihara dengan baik agar ketika belajar peserta didik selalu merasa nyaman dan betah. Manajemen kelas yang baik adalah berkenaan dengan penciptaan lingkungan belajar yang kondusif, pemanfaatan sarana dengan memperhatikan kebutuhan peserta didik baik secara individu maupun secara kelompok. Karena hakikat dari tujuan utama pada kegiatan pembelajaran adalah dapat memberikan bimbingan serta layanan kepada peserta didik agar mereka ikut serta dalam pembelajaran dengan aktif. 

            Oleh karena itu perlu kita ketahui, bahwa peserta didik secara individu memiliki latar belakang yang berbeda-beda, baik latar belakang keluarga ataupun kemampuan intelektualnya. Hal inilah yang menjadi karakteristik peserta didik yang paling utama menjadi bagian dari perhatian dan perhitungan guru dalam membawa peserta didik nya ke arah tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Manajemen kelas yang baik adalah berkenaan dengan penciptaan lingkungan belajar yang kondusif, pemanfaatan sarana dengan memperhatikan kebutuhan peserta didik baik secara individu maupun secara kelompok. Karena hakikat dari tujuan utama pada kegiatan pembelajaran adalah dapat memberikan bimbingan serta layanan kepada peserta didik agar mereka ikut serta dalam pembelajaran dengan aktif. Oleh karena itu perlu kita ketahui, bahwa peserta didik secara individu memiliki latar belakang yang berbeda-beda, baik latar belakang keluarga ataupun kemampuan intelektualnya. Hal inilah yang menjadi karakteristik peserta didik yang paling utama menjadi bagian dari perhatian dan perhitungan guru dalam membawa peserta didik nya ke arah tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.

1. Guru sebagai manajer/pemimpin pembelajaran

            Sebagai pemimpin pembelajaran di kelas, guru mempunyai peranan dan pengaruh yang sangat besar dalam peningkatan hasil belajar siswa. Berkembangnya semangat belajar siswa, atau minat terhadap materi pembelajaran, dan suasana belajar yang menyenangkan banyak ditentukan oleh kualitas kepemimpinan guru. Secara sederhana fungsi kepemimpinan guru dalam manajemen kelas dapat dikategorikan dengan langkahlangkah sebagai fungsi merencanakan pembelajaran, fungsi melaksanakan pembelajaran, dan fungsi mengawasi atau mengendalikan pelaksanaan pembelajaran. Dalam pelaksanaan pembelajaran fungsi - fungsi manajemen ini merupakan kesatuan yang tidak dapat terpisahkan pada keterampilan guru sebagai manajer atau pemimpin dalam kelas. Bahkan fungsifungsi ini merupakan fungsi sentral yang dapat menjiwai perwujudan keberhasilan belajar siswa.

2. Tipe-tipe Kepemimpinan Guru

a. Tipe Kepemimpinan Otoriter

        Tipe kepemimpinan ini adalah yang paling banyak dikenal, karena tergolong  paling tua. Kepemimpinan ini menempatkan kekuasaan di tangan seorang guru. Sejumlah siswa yang dipimpinnya dianggap sebagai pengikut yang harus taat pada dirinya apa yang menjadi kehendak harus dituruti. Sehingga guru menganggap dirinya bertindak sebagai penguasa dan siswa sebagai obyek dalam belajar.

b. Tipe Kepemimpinan Demokratis 

        Tipe kepemimpinan ini kebalikan dari tipe kepemimpinan otoriter, yaitu menempatkan atau memandang siswa sebagai faktor utama dan terpenting dalam pembelajaran. Tipe kepemimpinan ini menganggap dirinya bagian dari siswa yang bersama-sama berusaha untuk melayani kebutuhan serta bertanggung jawab dalam pencapaian tujuan. Agar para siswa merasa tanggung jawab, maka secara menyeluruh diajak ikut aktif melakukan belajar. Setiap siswa dianggap sebagai potensi yang berharga dan dianggap peran atau faktor yang paling utama. Karena proses pembelajaran dapat terjadi bila adanya aktivitas para siswa.

c. Tipe Kepemimpinan Pseudo-Demokratis

            Pseudo artinya palsu atau pura-pura.  Pemimpin semacam ini berusaha memberikan kesan dalam penampilannya seolah-olah ia demokratis, tetapi memiliki tujuan otokratis dengan cara mendesakkan keinginan sendiri secara halus. Ia selalu berusaha untuk mencari perhatian orang lain agar disukai dengan bentuk sikap dan perilaku serta ucapan ditonjolkan, atau dalam suatu pertemuan/rapat ia banyak meminta pendapat/saran orang lain, untuk memberikan kesan bahwa ia lebih memperhatikan orang lain. 

d. Tipe Kepemimpinan Laissez-Faire

            Laissez-Faire bila diterjemahkan artinya biarkan saja berjalan, atau masa bodo. Kepemimpinan semacam ini biasanya disebabkan pemimpin memberikan arti keliru pada istilah demokrasi. Demokrasi seolah-olah harus diartikan sebagai kebebasan mengemukakan dan mempertahankan pendapat masing-masing dan bebas untuk menggunakan kebijakan sendiri-sendiri. 

3. Langkah-langkah Kegiatan Manajemen Kelas

            Langkah-langkah kegiatan manajemen kelas adalah penyusunan rangkaian kegiatan yang dilakukan guru sebagai manajer/pemimpin pembelajaran di kelas adalah:

a. Merencanakan Pembelajaran 

            Dalam perencanaan terdapat rangkaian kegiatan untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Dalam konteksperencanaan pembelajaran, adalah berkaitan dengan penyusunan langkahlangkah dalam pencapaian tujuan belajar siswa yang dilakukan guru dalam membimbing, membantu, dan mengarahkan siswa supaya mau mengikuti kegiatan belajar. Singkatnya dalam perencanaan pembelajaran berkaitan erat dengan rumusan tujuan yang akan dicapai siswa atau hasil belajar siswa. Hanya saja masalahnya bagaimana implikasinya dalam perencanaan pembelajaran yang harus dibuat oleh guru sebelum mengajar dalam bentuk persiapan mengajar atau dengan sebutan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Fungsi guru dalam merencanakan pemebelajaran berorientasi karakteristik siswa yang dapat dilakukan adalah untuk membangkitkan motivasi belajar siswa secara aktif. 

b. Merumuskan Tujuan Pembelajaran

            Dalam hal ini, guru dituntut untuk menguasai dan mengetahui tentang tujuan yang selama ini menjadi acuan dalam rumusan pencapain tujuan pembelajaran. Klasifikasi rumusan tujuan pembelajaran dapat dikelompokan ke dalam tiga ranah, yaitu: (1) Ranah kognitif, yang mencakup tujuan yang berhubungan dengan ingatan (recall), pengetahuan, kemampuan intelektual. (2) Ranah afektif, yang mencakup tujuan yang berhubungan dengan perubahan-perubahan sikap, nilai, perasaan, dan minat. (3) Ranah psikomotorik, yang mencakup tujuan yang berhubungan dengan kemampuan gerak dalam keterampilan.

            Dari ketiga ranah tujuan tersebut, yaitu kemungkinan-kemungkinan hasil belajar siswa dalam bentuk tingkah laku yang diperoleh setelah pembelajaran. Rumusan tujuan pembelajaran dibuat dan diorientasikan berdasarkan analisis terhadap kebutuhan dan kemampuan siswa. Dalam kurikulum berbasis kompetensi, istilah tujuan pembelajaran merupakan kompetensi dasar, sedangkan tujuan pembelajaran yang lebih bersifat khusus merupakan indikator yang menjadi bentuk tingkah laku. 

c. Memilih Materi Pokok Pembelajaran

                Materi pokok yang dibuat berdasarkan pada pencapaian tujuan pembelajaran. Materi pokok pembelajaran merupakan alat bahkan sekaligus yang menjadi proses pengalaman bagi siswa selama mengikuti proses pembelajaran. Dengan kata lain, materi pokok pembelajaran adalah pokopokok materi yang harus dipelajari siswa sebagai sarana dalam pencapaian kompetensi dasar yang disusun berdasarkan indikator hasil belajar.

4. Menentukan Strategi Pembelajaran

                Yaitu, merupakan upaya guru dalam cara penyampaian materi yang telah dibuat tadi untuk lebih mudah disampaikan kepada siswa dengan cara seefektif mungkin. Berbagai cara yang dilakukan guru dalam penyampaian materi ini adalah menggunakan metode yang disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan siswa yang menjadi subyek belajar. Roestiyah berpendapat bahwa “di dalam proses belajar-mengajar, guru harus memiliki strategi, agar siswa dapat belajar secara efektif dan efisien, mengena pada tujuan yang diharapkan. Salah satu langkah untuk memiliki strategi itu ialah harus menguasai teknik-teknik penyajian, atau biasanya disebut metode mengajar”.Dalam pernyataan tersebut, guru harus dapat membuat atau menciptakan strategi pembelajaran dengan menggunakan metode yang dianggap paling tepat, mudah diterima oleh siswa, sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.

5. Membuat Evaluasi/Penialaian

        Evaluasi di sini merupakan alat untuk mengetahui atau mengukur sejauhmana kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan apakah tercapai sesuai dengan tujuan yang telah ditentukan ataukah tidak. Dalam proses pembelajaran kegiatan evaluasi sangat perlu dilakukan oleh guru. Moh. Surya berpendapat, “salah satu kegiatan yang harus dilakukan guru dalam melaksanakan tugas dan peranannya ialah kegiatan evaluasi”.

6. Melaksanakan Pembelajaran

         Pelaksanaan pembelajaran merupakan realiasi kegiatan yang telah direncanakan atau dipersiapkan sebelumnya. Oleh karena itu dalam pelaksanaan pembelajaran faktor guru sangat dominan berpengaruh terhadap aktivitas belajar siswa.


Kamis, 07 April 2022

MANAJEMEN SEKOLAH

Manajemen sekolah adalah suatu bentuk usaha pemberdayaan sekolah serta lingkungannya untuk mewujudkan sekolah yang mandiri dan efektif melalui pengoptimalan dan fungsi sekolah sesuai dengan visi misi yang di tetapkan sebagai tujuan dari sekolah itu sendiri. Manajemen sekolah juga bisa disebut dengan manajemen pendidikan, karena kedua sama saja. Sekolah termasuk kedalam pendidikan, jadi didalam manajemen sekolah sudah pasti ada yang namanya manajemen pendidikan. Didalam manajemen pendidikan ini juga melibatkan serta memanfaatkan sumber daya yang ada, terutama sumber daya manusia nya.

Dalam manajemen sekolah terdapat beberapa bidang, yaitu sebagai berikut :

1.   Manajemen kurikulum

Manajemen kurikulum merupakan salah satu aspek penting dan utama yang ada disekolah. Prinsip dasarnya yaitu mengupayakan agar kegiatan belajar mengajar ini dapat berjalan dengan lancar, sesuai dengan prosedur kerja yang sudah ditetapkan sebelumnya. Manajemen kurikulum terdiri dari 4 tahapan, yaitu : merencanakan, mengorganisasi dan koordinasi, melaksanakan, dan mengendalikan.

2.   Manajemen kesiswaan

Manajemen kesiswaan berfungsi sebagai pengatur segala sesuatu yang berkaitan dengan siswa, dimana siswa ini menjadi bagian dari organisasi sekolah. Maksudnya yaitu seluruh siswa dan siapa pun yang menjadi siswa disekolah termasuk kedalam organisasi sekolah, bukan 'siswa (orangnya)' yang mengikuti organisasi yang ada disekolah. Disekolah, siswa hendaknya diperlakukan sebagaimana mestinya, guru harus mengamati kondisi masing-masing siswanya dan menyatakan bahwa terdapat perbedaan didalam diri masing-masing siswa tersebut. Guru harus bisa memberikan motivasi kepada siswa agar selalu bersemangat dan mau untuk belajar, dan guru harus dan setidaknya bisa membantu siswa untuk mengembangkan potensi yang dimiliki siswa.

3.   Manajemen personalia

Manajemen personalia merupakan manajemen yang berbicara tentang bagaimana caranya untuk meningkatkan kualitas sekolah dengan cara memanfaatkan sumber daya manusia terbaik yang ada disekolah, dan bagaimana agar bisa menciptakan budaya kerja serta mengajar yang sehat dan baik agar semua pihak yang terlibat seperti guru, siswa, dan yang lainnya itu bisa mendapatkan hasil yang maksimal, juga dapat memberikan yang terbaik untuk kemajuan sekolah tersebut.

4.   Manajemen keuangan

Manajemen keuangan ini tentu sangat berkaitan dengan sekolah, karena tidak dapat sekolah itu berdiri tanpa adanya dana. Manajemen keuangan ini berisi tentang perputaran dana yang masuk dan dana yang keluar dari sekolah, dan bagaimana caranya agar bisa menciptakan peraturan yang mampu materil agar sekolah tetap bisa beroperasi.

5.   Manajemen infrastruktur

Manajemen infrastruktur ini merupakan yang mengatur segala infrastruktur yang ada disekolah, mendata dan merawat seluruh sarana dan prasarana uang ada disekolah secara periode, dan tata cara merawat nya dengan benar serta mampu harus memperbarui data-datanya.

Dalam manajemen sekolah, setiap lembaga pastinya mempunyai harapan agar mutu pendidikan yang dikelola disekolah dapat berhasil dan bermutu. Namun, kenyataan nya dilapangan, kualitas pendidikan yang ditangani lembaga pendidikan masih banyak mengalami kendala dalam pencapaian mutu pendidikan tersebut. Menurut Husnaini Usman, ada beberapa faktor yang mempengaruhi dan menjadi penyebab rendahnya mutu pendidikan, antara lain : 1. Kebijakan atau aturan dalam penyelenggaraan pendidikan masih banyak menggunakan dan menerapkan pendekatan fungsi produksi pendidikan dan analisis yang tidak konsisten. 2. Penyelenggaraan pendidikan dilakukan dengan cara sentralistik atau pengaturan kewenangan dari pemerintah daerah kepada pemerintah pusat untuk mengurusi urusan rumah tangganya sendiri berdasarkan prakarsa dan aspirasi dari rakyatnya dalam kerangka negara kesatuan Republik Indonesia. 3. Dan peran masyarakat terutama orang tua siswa masih sangat rendah dalam berpartisipasi di penyelenggaraan pendidikan.

Berdasarkan faktor yang mempengaruhi dan faktor penyebab nya, maka kebijakan strategis yang diambil Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, dalam meningkatkan mutu pendidikan dengan melakukan perubahan, yaitu: 1) Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah, di mana sekolah ini diberikan kewenangan untuk melakukan perencanaan sendiri terkait upaya dan usaha peningkatan mutu secara menyeluruh dan merata. 2) Pendidikan yang berbasis partisipasi komunitas, dimana terjadilah interaksi yang positif antara sekolah dengan masyarakat, karena sekolah ini sebagai pusat pembelajaran komunitas. 3) Menggunakan pandangan belajar yang akan menjadikan para siswa dan siswi menjadi manusia yang berdaya (mampu dan sanggup).

Di dalam pencapaian mutu pendidikan tentu saja ada masalah yang akan datang, karena tidak semudah apa yang diharapkan. Ada beberapa masalah yang dapat mempengaruhi manajemen mutu pendidikan menurut M. Jusuf Hanafiah dkk, (2001:4) menyebutkan nya yaitu problematika atau permasalahan yang dihadapi dalam pelaksanaan manajemen peningkatan mutu pendidikan adalah:

1) Sikap mental para pengelola pendidikan, baik itu yang memimpin maupun yang dipimpin. Orang yang dipimpin melakukan aktifitas karena perintah dari atasan, bukan karena rasa tanggung yang di emban jawab dan kreativitasnya. Orang yang memimpin juga sebaliknya, tidak pernah memberikan kepercayaan kepada yang dipimpin atau bawahnya, tidak memberikan kebebasan berinisiatif dan juga tidak melimpahkan wewenang kepada yang dipimpin.

2) Evaluasi pada program kegiatan tidak yang sudah dilaksanakan ditindak-lanjuti dengan baik. Akibatnya, pelaksanaan pendidikan tidak mengarah dan menuju pada peningkatan mutu pendidikan di suatu sekolah

3) Gaya kepemimpinan yang kurang tepat. Kebanyakan pemimpin tidak menunjukkan pengakuannya dan tidak memberikan penghargaan atas keberhasilan kerja dari bawahannya.

4) Kurang adanya rasa memiliki bagi para pelaksana dalam pengelolaan pendidikan. Pelaksana kurang memahami program atau rencana strategis yang di susun dan terhambatnya komunikasi serta interaksi antar personal. Hal ini pun merupakan salah satu kendala dalam peningkatan dan pengendalian mutu pendidikan disekolah, yang mengakibatkan mutu sekolah tidak meningkat.

Minggu, 03 April 2022

KULTUR SEKOLAH

        Kultur atau budaya merupakan aturan yang dibuat oleh masyarakat yang akan menjadi milik bersama di dalam masyarakat itu sendiri dan dapat diterima oleh masyarakat setempat sehingga mudah untuk diterapkan. Kultur ini dibuat oleh masyarakat, diakui sebagai aturan yang mengikat oleh masyarakat dan diterapkan oleh masyarakat itu sendiri. Pengakuan tersebut dijadikan sebagai patokan dalam menjalankan kehidupan sehari-hari tetapi tetap berdasarkan nilai dan norma yang berlaku dimasyarakat itu sendiri dalam mewujudkan tujuan yang akan dicapai bersama. Tidak hanya itu, kultur juga bisa dijadikan sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari bagi masyarakat, seperti pola pikir, perilaku dan sikap, nilai yang tercermin baik dalam wujud fisik maupun nonfisik. Wujud fisik contohnya peninggalan benda-benda bersejarah, sedang nonfisik yaitu seperti kegiatan sosial dan seni. Secara alami kultur ini akan diwariskan dari generasi ke generasi berikutnya sehingga akan tetap ada dan tidak hilang di telan zaman. 

            Sekolah merupakan salah satu tempat untuk dikembangkan nya kultur dari generasi ke generasi berikutnya. Kultur sekolah adalah aturan dasar atau kreasi seni yang berisi nilai, norma, keyakinan dan kebiasaan yang dibuat bersama oleh seluruh masyarakat sekolah yang dapat dipelajari dan juga akan diterapkan serta telah teruji dapat memecahkan masalah-masalah atau kesulitan yang sedang dihadapi sekolah dalam mencetak lulusan yang cerdas, terampil, mandiri, bertanggung jawab sesuai dengan visi misi dan harapan sekolah tersebut. Biasanya kultur sekolah dapat dilihat dari bagaimana bentuk kepala sekolah nya, guru-guru nya, siswa nya, cara belajarnya, dan tenaga pekerja lainnya yang ada disekolah yang pastinya itu semua berhubungan satu sama lain sehingga membentuk tradisi disekolah itu sendiri.

A. Macam-Macam kultur Sekolah

            Adanya kultur sekolah dapat mempengaruhi sikap dan perilaku warga sekolah. Kultur sekolah ini dibedakan menjadi tiga macam, yaitu : kultur sekolah yang positif, kultur sekolah yang negatif, dan kultur sekolah yang netral. 

1. Kultur sekolah yang positif diisi dengan kegiatan-kegiatan yang bersifat mendukung pada peningkatan kualitas pendidikan disekolah tersebut, yang terdiri dari :

a) Adanya tekad yang kuat untuk meraih prestasi dan memberikan penghargaan kepada yang meraih prestasi. 

b) Selalu bersemangat, menegakkan kejujur, adil, mengakui kelemahan dan kekurangan dihadapan lawan atau mengakui kekuatan dan keunggulan lawan. 

c) Saling menghargai satu sama lain.

2. Kultur sekolah yang negatif diisi dengan kegiatan-kegiatan yang bersifat tidak mendukung pada peningkatan kualitas pendidikan disekolah tersebut, yang terdiri dari :

a) Banyak nya jam kosong yang tidak digunakan dengan baik.

b) Sering nya absen dan tidak mengerjakan tugas.

c) Terlalu dan sering mengizinkan terhadap pelanggaran nilai-nilai norma yang berlaku.

d) Adanya perbedaan pendapat yang mengakibatkan perpecahan dan terbentuk nya kelompok-kelompok yang akan saling menjatuhkan.

e) Hanya memperdulikan nilai pelajaran tetapi tidak pada kemampuan yang dimiliki.

3. Kultur sekolah yang netral diisi dengan kegiatan-kegiatan yang bersifat kurang berpengaruh baik itu negatif maupun positif pada peningkatan kualitas pendidikan disekolah tersebut, yang terdiri dari :

a) Membuat seragam guru.

b) Kegiatan arisan yang diadakan oleh guru.

c) Fasilitas sekolah dan sebagainya.

            Terciptanya dan terbentuknya kultur sekolah tidak lain hanya lah untuk memperbaiki kinerja sekolah tersebut, seperti kepala sekolah, guru, siswa, karyawan sekolah, dan orang tua siswa. Hal tersebut dapat terjadi apabila budaya sekolah nya sehat, solid, kuat, positif, dan profesional. Maknanya budaya sekolah ini harus menjadi komitmen yang dipegang oleh seluruh warga sekolah dan akan menjadi kepribadian sekolah tersebut demi mencapai tujuan bersama. Dengan budaya sekolah yang sehat, berkolaborasi, semangat yang tinggi, suasananya kekeluargaan, maka kultur belajar mengajar yang bermutu dapat tercipta disekolah tersebut. Perbaikan sistem disekolah intinya yaitu membangun sekolah dengan kekuatan utama sekolah tersebut. Dalam perbaikan mutu sekolah sebagai modal dasarnya yaitu perlu nya memahami budaya sekolah. Dengan memahami budaya sekolah maka permasalahan yang ada dapat dengan mudah diketahui. 

            Secara karakteristiknya kultur sekolah terdiri dari 2, yaitu kultur positif dan kultur negatif. Kultur positif adalah budaya yang membantu mutu sekolah dan mutu kehidupan bagi warga sekolah. Mutu kehidupan warga sekolah yang diharapkan adalah warga yang sehat, dinamis, aktif, dan profesional. Kultur positif ini akan memberikan kesempatan untuk sekolah beserta warganya berfungsi secara optimal, bekerja secara efisien, energik, memiliki semangat tinggi, dan akan mampu untuk terus berkembang. Kultur positif ini harus terus menerus dikembangkan dari generasi ke generasi berikutnya, dan dari kelompok satu ke kelompok lainnya. Kultur positif dan kuat memiliki kekuatan dan akan menjadi modal dalam melakukan perubahan dan perbaikan. 

              Sedangkan kultur negatif adalah budaya yang organisasinya bersifat anarkhis, negatif, beracun, dan merugikan. Sekolah yang merasa puas dan cukup dengan yang apa yang telah dicapai merupakan bagian dari kultur negatif, karena mereka pasti tidak ingin melakukan perubahan dan takut mengambil risiko terhadap perubahan tersebut. Akibatnya, kualitaspun akan menurun. Kultur sekolah bersifat dinamis, maksudnya yaitu ketika perubahan pola perilaku, maka perubahan pola perilaku dapat mengubah sistem nilai dan keyakinan pelaku dan bahkan mengubah sistem asumsi yang ada, walaupun ini sangat sulit diubah dan diterapkan. Namun, gerak kultur sekolah dapat saja menghadirkan masalah dan jika ini ditangani dengan bijak dan sehat maka dapat membawa perubahan positif. Sekolah perlu menyadari secara serius mengenai keberadaan berbagai macam kultur yang berbeda-beda, yang ada seperti kultur sehat dan tidak sehat, kultur kuat dan lemah, kultur positif dan negatif dan konsekuensinya terhadap perbaikan sekolah.

B. Peran dan Fungsi Kultur Sekolah

            Disebuah lembaga atau sekolah kultur itu sangatlah penting hingga diibaratkan seperti nyawa manusia, tanpa kultur sekolah hidup seperti raga yang tak bernyawa. Kultur sekolah diyakini mempunyai kiprah pada membentuk kinerja yang terbaik dalam masing-masing individu, grup kerja atau unit kerja sekolah. Oleh lantaran itu, sekolah menjadi satu institusi, perlu menciptakan interaksi sinergitas antar masyarakat sekolah yg positif agar memperbaiki kualitas sekolah yg bersangkutan. Beberapa kajian menerangkan keliru satu faktor penghambat pencapaian prestasi sekolah artinya kultur atau budaya sekolah. Oleh lantaran itu, buat memperbaiki kualitas sekolah perlu dilakukan melalui sentuhan  budaya sekolah terlebih dahulu apabila mutu pendidikan ingin diperbaiki. Keadaan misalnya, ini sinkron menggunakan output pengamatan Gunningham & Gresso ( Depdiknas, 2003: 5 ) yang mengungkapkan bahwa pada menunjang pemugaran mutu pendidikan sekolah melalui pendekatan struktural tidak bisa mengganti keaadaan secara signifikan yg hanya bersifat topdown dan bersifat sementara tidak sama menggunakan melalui pendekatan kultural yang bersifat buttom-up sebagai akibatnya rakyat  sekolah tidak merasa terpaksa melakukan perbaikan menggunakan keaadan yang memang sudah sebagai sebuah budaya yangg dianut sekolah itu sendiri, sebagai akibatnya akan memudahkan terwujudnya peningkatan kualitas pendidikan yang diharapkan.

 

PEMIKIRAN ISLAM

     POTRET PEMIKIRAN POLITIK ISLAM               MODERN (Membedah Tiga Paradigma             Pemikiran Politik Islam: Tradisionalis,       ...