Senin, 31 Oktober 2022

SEJARAH PERADABAN ISLAM TIGA KERAJAAN BESAR

          Tiga kerajaan Islam penting diciptakan pada akhir abad 15 dan awal abad 16: Kerajaan Usmani di Turki, Kerajaan Mughal di India, dan Kerajaan Safawi di Persia. Tiga Kerajaan penting tersebut tampak lebih memusatkan pandangan mereka pada tradisi demokratis Islam, dan membangun imperium absolute. Hampir setiap segi kehidupan umum dijalankan dengan ketepatan sistematis dan birokratis dan berbagai kerajaan mengembangkan sebuah administrasi yang rumit.

          Ketiga kerajaan besar ini seperti membangkitkan kembali kejayaan Islam setelah runtuhnya Bani Abbasiyah. Namun, kemajuan yang dicapai pada masa tiga kerajaan besar ini berbeda dengan kemajuan yang dicapai pada masa klasik Islam. Kemajuan pada masa klasik jauh lebih kompleks. Di bidang intelektual, kemajuan di zaman klasik. Dalam bidang ilmu keagamaan, umat Islam sudah mulai bertaklid kepada imam-imam besar yang lahir pada masa klasik Islam. Kalau pun ada mujtahid, maka ijtihad yang dilakukan adalah ijtihad fi al-mazhab, yaitu ijtihad yang masih berada dalam batas-batas mazhab tertentu. Tidak lagi ijtihad mutlak, hasil pemikiran bebas yang mandiri. Filsafat dianggap bid’ah. Kalau pada masa klasik, umat Islam maju dalam bidang politik, peradaban, dan kebudayaan, seperti dalam bidang ilmu pengetahuan dan pemikiran filsafat, pada masa tiga kerajaan besar kemajuan dalam bidang filsafat — kecuali sedikit berkembang di kerajaan Safawi Persia — dan ilmu pengetahuan umum tidak didapatkan lagi. Kemajuan yang dapat dibanggakan pada masa ini hanya dalam bidang politik, kemiliteran, dan kesenian, terutama arsitektur.

Rabu, 26 Oktober 2022

Renaisans Eropa dan Transmisi Keilmuan Islam ke Eropa

           Renaisans, berasal dari kata Re, (kembali) dan Neitre (lahir) berarti "kelahiran kembali." Dalam konteks sejarat barat, istilah ini mengacu pada terjadinya kebangkitan kembali minat yang sangat besar dan mendalam terhadap kekeyaan warisan Yunani dan Romawi kuno dalam berbagai aspeknya. Pertama, karena pada masa ini manusia berhasil mencapai prestasi gemilang dalam berbagai bidang seni, filsafat, literatur, sains, politik, pendidikan, agama, perdagangan dan lain-lain. Kedua, Renaisans telah membangkitkan kembali cita-cita, alam pemikiran, filsafat hidup yang kemudian menstrukturisasi standar-standar dunia modern seperti optimisme, hedonisme, naturalisme dan individualisme. Ketiga, terjadinya kebangkitan kembali minat mendalam terhadap kekayaan warisan Yunani dan Romawi Kuno. Keempat, terjadinya kebangkitan humanisme sekuler yang menggeser orientasi berfikir manusia dari yang bersifat teosentrik menjadi antroposentris. Kelima, terjadinya pemberontakan terhadap gereja yang kemudian muncul kebebasan intelektual dan agama. Dalam hal masa ini telah memaklumkan bahwa manusia sendiri adalah kaidah segala sesuatu yang ada, bukan Gereja atau Alkitab.

          Dunia Islam pernah mencapai masa keemasan di bidang sains, teknologi, dan filsafat tepatnya di bawah Dinasti Abbasiyah yang berkuasa sekitar abad-8 sampai abad 15. Lebih lanjutnya bahwa sarjana muslin menjadi jembatan dan perantara bagi kemajuan ilmu pengetahuan di dunia modern saat ini. Dari dunia Islam, Ilmu pengetahuan mengalami transmisi, diseminasi, dan proliferasi ke dunia Barat yang mendukung muculnya zaman Renaisans di Eropa. Melalui dunia Islam, barat mendapat akses untuk mendalami dan mengambangkan ilmu pengetahuan modern.

          Transmisi pemikiran dan sains Islam ke Barat pada awal abad pertengahan melewati beberapa tahap. Pertama, sekolompok sarjana Barat mengunjungi wilayah-wilayah muslim untuk melakukan kajian-kajian pribadi. Kedua, bermula dengan pendirian Universitas-Universitas pertama Barat. Ketiga, pada tahab ini sains Islam berhasil ditransmisikan ke Perancil dan wilayah-wilayah Barat lewat Itali. Bentuk Kontribusi ilmu pengetahuan Islam terhadap Bangsa Barat antara lain. Diantaranya: Kedokteran, Pertanian, Astronomi, Sosiologi, Matematika, Sejarah dan banyak juga yang mempelajari metode keilmuan dari orang-orang Islam di masa pertengahan.

Rabu, 19 Oktober 2022

Analisis Runtuhnya Islam di Spanyol

          Masuknya Islam ke Spanyol pada masa Khalifah Al-Walid, yang di mana khalifah tersebut merupakan Khalifah dari Bani Umayyah yang berada di Damaskus. Umat Islam sudah terlebih dahulu menguasai Afrika Utara sebelum menaklukkan Spanyol. Dalam proses penaklukan Spanyol terdapat tiga pahlawan Islam yang dikatakan paling berjasa memimpin satuan-satuan pasukan ke sana. mereka adalah Tharif Ibn Malik, Thariq Ibn Ziyad, dan Musa Ibn Nushair. Spanyol di duduki umat islam pada zaman khalifah Al-Walid (705-715), salah seorang khalifah dari bani umayyah yang berpusat di damaskus. Sebelum meneklukkan spanyol, umat islam telah mengusai afrika utara dan menjadikannya sebagai salah satu provinsi dari dinasti umayyah. Dalam proses penaklukan spanyol terdapat tiga pahlawan islam yang dikatakan paling berjasa memimpin satuan-satuan pasukan ke sana. mereka adalah Tharif Ibn Malik, Thariq Ibn Ziyad, dan Musa Ibn Nushair. 

         Masa kekuatan islam di spanyol di mulai semenjak tahun 711 M, ketika Thariq Ibn Ziyad mampu menghancurkan pasukan Goth dan mengusai kota Toledo dan berakhir pada 1492, selama lebih dari tujuh abad umat islam memerintah spanyol dalam bentuk pemerintahan yang berada. Perkembangan pendidikan Islam di spanyol meliputi perkembangan dari sisi institusinya maupun materi atau kurikulumnya. Pada masa pemerintahan Abdurahman Al-Dakhil memanfaatkan potensi ini dengan sebaik-baiknya bagi pengembangan ilmu pengetahuan. Adapun upayanya dalam mengembangkan pendidikan dan peradaban antara lain mendirikan lembaga pendidikan, perkembangan perpustakaan, kemajuan intelektual, kemajuan bidang agama, dan kemajuan dalam bidang arsitektur bangunan.

          Kemajuan besar dalam peradaban ini, runtuh setelah dinasti yang berkuasa di wilayah kecil ini tidak mampu mencegah perebutan kekuasaan di kalangan pangeranya. Abu Abdullah Muhammad yang merasa di singkirkan karena tidak diberi wewenang menggantikan kedudukan bapaknya menjadi amir di Granada, akhirnya memberontak. Setelah ayahnya terbunuh kekuasaan beralih ke Mahammad ibn Sa’ad. Abu Abdullah lalu meminta bantuan kepada Ferdinand dan Isabella. Mereka berhasil mengalahkan penguasa yang sah dan menjadikan Abu Abdullah naik tahta. Ketika kedua raja tersebut bersatu untuk merebut kekuasaan terakhir umat islam di Granada. Abu Abdullah tidak kuasa menahan serangan tersebut pada tahun 1492. Kekalahan membuatnya hijrah ke afrika utara dan dengan demikian berakhirlah kekuasaan islam di spanyol.

Selasa, 11 Oktober 2022

Masa Keemasan Pendidikan Islam (Studi Tentang Peran Khalifah Harun Al-Rasyid Dalam Pendidikan Islam)

           Seperti yang telah kita ketahui bahwa pergantian Bani Umayyah oleh Bani Abbas yang merupakan puncak kepemimpinan masyarakat Islam. Mereka Bani Abbasiyah mengklaim dirinya ketika berhasil merebut sebagai pengusung konsep sejati kekhalifahan, yaitu gagasan negara teokrasi yang menggantikan pemerintahan sekuler Bani Umayyah. Dinasti Abbasiyah sama halnya dengan Dinasti lain dalam sejarah Islam, mencapai masa kejayaan politik dan intelektual, kekhalifahan Baghdad yang didirikan oleh al-Saffah dan al-Manshur telah mencapai masa keemasan pada khalifah ketiga, Yaitu al-Mahdi, dan khalifah kesembilan al-Watsiq dan lebih khusus lagi pada masa Harun al-Rasyid dan putranya al-Makmun. Kegiatan pendidikan dan pengajaran pada masa Abbasiyah mencapai kemajuan yang gemilang. Sebagian khalifah Abbasiyah merupakan orang-orang berpendidikan. Lembaga pendidikan Islam pertama untuk pengajaran yang lebih tinggi tingkatannya adalah Bait Al-Hikmah (rumah kebijakan) di Baghdad, ibu kota negara. Selain berfungsi sebagai biro penerjemah, lembaga ini juga dikenal sebagai pusat kajian akademis dan perpustakaan umum, serta memiliki sebuah observatorium. 

          Harun Ibn Muhammad Ibn Abi Ja’far al-Manshur adalah Khalifah kelima dalam dinasti Abbasiyah. Harun al-Rasyid adalah seorang khalifah yang paling dihormati, alim dan sangat dimuliakan sepanjang usia menjadi khalifah. Harun al-Rasyid (763-809) adalah salah seorang pemimpin terbesar dalam sejarah. Harun Al-Rasyid berhasil membangun Baghdad menjadi kota paling hebat di dunia saat itu. Harun al-Rasyid sangat mencintai serta memperhatikan kehidupan rakyatnya. Perhatian Harun al-Rasyid terhadap perkembangan ilmu pengetahuan juga sangat besar. Terbukti dengan maraknya proyek-proyek penerjemahan buku-buku dari berbagai bahasa ke dalam bahasa Arab. 

Peran Khalifah Harun al-Rasyid dalam Pendidikan Islam yaitu: 

1. Perpustakaan Khizanah Al-Hikmah yang dikembangkan Harun al-Rasyid menjadi tempat penerjemahan buku-buku asing ke dalam Bahasa Arab, menjadikan Baghdad kota yang disinari cahaya keilmuan dan ladang ilmu, bahkan mampu mengalahkan Eropa yang pada saat itu masih diselimuti kegelapan. 

2. Memanfaatkan kekayaan negara yang melimpah untuk keperluan pendidikan, sosial, rumah sakit, serta pendirian farmasi, sehingga pada masa Harun al-Rasyid terdapat 800 orang dokter yang pada masa itu merupakan pencapaian yang luar biasa. 

3. Hubungan kerjasama yang baik dengan negara-negara maju seperti India, Bizantium dan sebagainya. 

4. Mengembangkan sistem pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat kala itu dan sesuai dengan kondisi sosialnya. 

5. Menjamin kesejahteraan para guru dengan gaji yang pantas.

6. Menyesuaikan kurikulum pada tiap jenjang pendidikan.


KONTRIBUSI KHALIFAH ABDURRAHMAN AL-NASHIR DALAM MENGEMBANGKAN PENDIDIKAN ISLAM DI ANDALUSIA

           Pendidikan Islam yaitu bimbingan terhadap pertumbuhan rohani dan jasmani menurut ajaran Islam dengan hikmah, mengarahkan, mengajarkan, melatih, mengasuh, dan mengawasi berlakunya semua ajaran Islam. karakteristik pendidikan Islam antara lain pendidikan robbaniyah, pendidikan keimanan, pendidikan yang menyeluruh dan sempurna, pendidikan pertengahan dan seimbang, pendidikan yang berlanjut dan pembaharuan, pendidikan yang Stabil dan fleksibel, pendidikan yang ideal dan realistis, pendidikan individu dan masyarakat, dan pendidikan Manusiawi dan Global. Ruang Lingkup Pendidikan Islam terdiri dari perbuatan mendidik, peserta didik, dasar dan tujuan pendidikan, pendidik, materi pendidikan Islam, metode pendidikan, alat pendidikan, evaluasi pendidikan, lingkungan pendidikan, dan lembaga pendidikan Islam.

Minggu, 02 Oktober 2022

PERAN KEPUSTAKAAN DAN PERPUSTAKAAN DALAM MEMBANGUN PERADABAN ISLAM

             Dalam membangun perkembangan dan keilmuan tentunya peran perpustakaan dan Islam sangatlah penting serta dibutuhkan. Tanpa adanya perpustakaan dan Islam maka tidak akan berpengaruh pada perkembangan keilmuan. Dibangunnya perpustakaan merupakan upaya untuk membangun peradaban Islam, di mana pada masa itu umat Islam menghadirkan perpustakaan sebagai icon dari adanya ilmu pengetahuan. Pada masa itu perpustakaan dijadikan sebagai tempat yeng membawa perubahan bagi masyarakat luas pada masa itu. Sejarah kepustakaan dan perpustakaan Islam dimulai dari praktik kepustakaan kepustakawanan yang berupa tradisi dan pelestarian informasi pada suatu media. Tradisi yang muncul adalah tradisi teks di mana berupa penulisan wahyu Al-Quran dan teknik bagaimana melestarikan media penyimpanan informasi seperti kulit binatang, batu, tulang unta dan media lainnya. Cikal bakal adanya perpustakaan sudah ada pada masa sebelumnya yang ditandai dengan adanya:

a. Terdapat wahyu Allah yang pertama memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk membaca (Iqra’).

b. Terdapat  sahabat seperti Zaid bin Tsabit, Ubay bin Ka’ab, dan Khalid bin Walid yang diangkat langsung oleh Rasulullah SAW, untuk menulis mushaf Al-Quran.

c. Rasulullah SAW memerintahkan kepada tawanan perang Badar untuk mengajari anak-anak Muslim membaca dan menulis.

d. Munculnya gagasan menulis mushaf Al Qur’an dalam bentuk pribadi seperti Mushaf Ubay bin Ka’ab,

 

Menurut sejarah terdapat perpustakaan yang berada di wilayah itu yaitu:

1. Perpustakaan Umar al-Wakidi (736-811 M), diperkirakan seratus dua puluh ekor untan untuk membawa koleksi buku tersebut.

2. Bait al-Hikmah dari al-Ma’mun.

3. Dar al-Ilm dari Ardeshir (991 M)

4. Perpustakaan Madrasah al-Mustanshiriyah (1233 M)

PEMIKIRAN ISLAM

     POTRET PEMIKIRAN POLITIK ISLAM               MODERN (Membedah Tiga Paradigma             Pemikiran Politik Islam: Tradisionalis,       ...